Memupuk Kembali Rasa Kepedulian, Saling Berbagi dan Empati

Memupuk Kembali Rasa Kepedulian, Saling Berbagi dan Empati

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanya nama dan seuntaian pulau di peta”. -Mohammad Hatta

Modernisasi dan globalisasi kini telah meluas ke berbagai lini kehidupan, tak hanya orang dewasa yang menjadi sasarannya, anak-anakpun kini menjadi salah satu objek yang terkena oleh modernisasi dan globalisasi. Bentuk modernisasi dan globalisasi yang dulu hanya dirasakan oleh masyarakat-masyarakat perkotaan kini telah menjalar hingga ke pelosok-pelosok pedesaan.

Ciri dari modernisasi ini adalah mudahnya akses bagi semua kebutuhan hidup manusia, baik itu dalam komunikasi maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya. sebagai dampak dari segala kemudahan yang terjadi, kebudayaan-kebudayaan yang sejak dari dulu dijunjung tinggi kini seolah-olah menjadi hilang dan kabur. Misalkan budaya tolong menolong dan gotong royong yang menjadi karakter anak bangsa kini tergantikan oleh sikap-sikap apatis, egois dan individualis.

Individualis, egois dan apatis merupakan sikap yang tidak sesuai dengan kearifan local bangsa ini seolah-olah memaksa untuk dijadikan cara hidup di masa kini. Keadaan ini jelas sangat berbahaya bagi kehidupan sosial masyarakat, sebab sikap-sikap ini akan memnghilangkan kepedulian yang dimiliki seseorang dan cenderung akan membangkitkan sikap materialistis yang menjadikan manusia sebagai money oriented.

Sikap individualis yang dimiliki seseorang akan menghilangkan kepedulian dalam dirinya. Sehingga ia cenderung memntingkan diri sendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Dan sebagai dampaknya ia akan dengan egoisnya merampas hak-hak yang dimiliki orang lain untuk menggapai kepuasan individu yang diinginkannya. Sebagai contoh adalah korupsi, korupsi terjadi karena hilangnya rasa kepedulian terhadap orang lain dan lebih mementingkan keuntungan untuk diri sendiri.

Begitupun dengan kemiskinan dan kebodohan yang masih dialami oleh sebagian besar masyarakat indonesia, dimana kejadian ini pada dasarnya terjadi karena hilangnya rasa peduli dan sikap tolong menolong dalam diri manusia sehingga menyebabkan ia enggan untuk berbagi ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Karena sebenarnya kemiskinan dan kebodohan bisa dengan mudah teratasi dengan syarat semua elemen bergotong royong bersama dalam menangani hal ini.

Contoh-contoh diatas merupakan sedikit dari banyaknya dampak hilangnya rasa peduli dan bertumbuhnya sikap apatis dan egois pada diri yang jelas sangat merugikan banyak orang dan alam sekitar. Sebab itu kepedulian, saling berbagi, dan empati harus ditanamkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Begitupun dalam menyikapi segala bentuk modernisasi dan globalisasi yang kini terjadi, perbanyaklah silaturahmi dan berkumpul bersama masyarakat yang ada disekitar.

Kepedulian, saling berbagi dan empati kini harus dipupuk kembali sehingga nantinya tumbuh subur dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kepedulian adalah kunci dari kemajuan bangsa, seperti yang dikatakan Moch hatta “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanya nama dan seuntaian pulau di peta”.

Menumbuhkan sikap peduli dan empati

Bagaimana cara menumbuhkan kepekaan diri untuk saling berbagi, peduli, dan empati? Pertama yang harus dilakukan adalah menumbuhkan sikap positif dalam diri. Insyaallah sikap positif itu akan selalu menghadirkan pikiran dan perbuatan yang positif sehingga akan membuat kita selalu berbaik sangka terhadap orang dan mendekatkan kita pada rasa kasih sayang dan kepedulian.

tanamkan kepedulian sejak dini pada anak.

Tidak hanya itu, ketika kita menumbuhkan sikap positif dalam diri, sikap egois yang mungkin kita miliki sedikit demi sedikit akan terkikis bahkan hilang dari kepribadian kita. sehingga ketika kita melihat kejadian tidak menyenangkan menimpa orang lain, kita bisa merasakan penderitaan yang dialami orang lain, kemudian kita juga akan mengerti dan peka terhadap keadaan orang lain.

Kedua, cara kita agar bisa saling berbagi,peduli dan empati adalah dengan cara mengurangi beban dan penderitaan yang dialami orang lain. Jika sifat dan perilaku ini kita biasakan dalam diri kita, secara tidak langsung hal ini dapat membahagiakan orang lain karena kepedulian kita kepadanya. Sehingga hubungan menjadi harmonis.

Kepeduliaan bisa membuat kita lebih dekat dan mengerti dengan keadaan orang lain yang kurang beruntung. Dan dengan kedekatan itu kita akan lebih mengerti dengan keadaan yang dialaminya, dengan itu maka kita akan semakin sadar dan mengerti betapa beruntungnya diri kita karena tidak mengalami hal yang sama seperti orang lain. Hingga akhirnya kita akan menjadi orang yang senantiaa bersyukur dan selalu berbagi dengan apa yang kita miliki.

Pada intinya saling berbagi, peduli dan empati adalah kebudayaan asli yang dimiliki oleh kita dan telah turun temurun dari masa ke masa, sebab itu tugas kit adalah merawat kebudayaan ini sehingga bisa diteruskan lagi oleh generasi yang akan datang. Dan sebagai penangkal serangan-serangan kebudayaan dari luar, perbanyaklah belajar dan silaturahmi antar sesama, sehingga didalamnya kita bisa tetap saling berbagi dan saling menasihati.

Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kepekaan sosial, rasa peduli dan mepati yang tinggi sehingga hati kita akan selalu tergerak untuk turut membantu meringankan penderitaan orang lain dengan berbagai macam wujud bantuan yang bisa diberikan. Dan semoga kita juga dijauhkan dari segala sikap egois, individualis serta apatis yang bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Leave a Reply