Cara Mendidik Anak dengan Cara Rasulullah

Cara Mendidik Anak dengan Cara Rasulullah

Akhir-akhir ini dunia pendidikan menjadi salah satu bahasan yang paling hangat dalam pemberitaan. Hal itu tak lain dikarenakan kondisi saat yang sedang dilanda pandemi Covid-19 yang mengakibatkan seluruh proses pendidikan harus dilaksanakan di rumah masing-masing atau dikenal dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sebagai salah satu solusi dalam sektor pendidikan ditengah pandemic ini merupakan salah satu beban atau kewajiban baru bagi orang tua. Tentunya kesibukan orang tuapun bertambah dari tadinya yang mungkin hanya mengantarkan dan menjemput anaknya disekolah kini harus mendampingi anaknya belajar di rumah seharian.

Pada intinya setiap orang tua menginginkan agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang baik. Akan tetapi, pada hakikatnya pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, artinya rumah merupakan salah satu basis pendidikan anak yang paling penting. Dan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang mengharuskan orang tua mendampingi anak seharian merupakan moment bagi orang tua untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya bagi kita untuk mengambil peljaran dari kehidupan Rasulullah Saw., sebab setiap segi kepribadian yang dimiliki oleh beliau dapat menjadi suri tauladan yang baik untuk kita. Termasuk salah satunya menjadi orang tua yang baik.

Rasulullah saw. memiliki tujuh orang anak. yakni terdiri dari tiga orang anak laki-laki dan empat orang putri. mereka adalah Qasim, Abdullah, Ibrahim, Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fathimmah Azzahra.

Diantara cara Rasulullah saw dalam mendidik setiap buah hatinya ialah memperkenalkan tauhid sejak dini. Dengan begitu, di dalam diri mereka akan tumbuh sifat tunduk dan pasrah terhadap perintah Allah swt. Nabi saw bahkan mengajarkan tauhid kepada anak-anaknya sebelum risalah kenabian datang kepadanya.

Setelah beliau diangkar menjadi utusan Allah, anak-anaknya pun kian patuh dan berbakti pada ayahnya. Anak-anaknya memahami betul bahwa perintah ayahnya berasal dari wahyu Allah swt. Sebagai contoh, Rukayyah menjalani perintah hijrah ke Habasyah bersama suamisnya dengan penuh ketulusan dan kesabaran.

Selain itu, putra dan putri rasulullah saw. juga tegar dalam membersamia perjalanan dakwah islam yang penuh rintangan selama di Makkah. Dimana mental kuat yang terdapat dalam diri mereka meurpakan wujud dari keyakinan tauhid yang mengakar dalam sanubari mereka.

Setelah menanamkan jiwa tauhid, hal berikutnya adalah melibatkan anak-anak dalam kajian keilmuan agama. Saat sudah hijrah ke Madinah, RAsulullah menjadikan mesjid sebagai pusat aktivitas sosial kaum muslimin. Di sanalah beliay menyelenggarakan shalat, mahelis ilmu dan perbagai kegiatan lainnya terkait mashlahat keumatan. Majelis Rasulullah saw terbuka bagi siapapun, termasuk kaum perempuan. Sehingga putri-putri Nabi saw sering mengikuti kajian yang diselenggarakan di Mesjid Nabawi.

Salah satu bentuk pendidikan terhadap anak adalah teguran. Ketika mereka berbuat kesalahan, orang tua m,esti mengingatkannya dengan cara-cara yang baik dan tentunya tidak menyakiti anak. Sebagai contoh, ketika rasulullah saw. melihat Fatimah mengenakan kalung emas. Nabi menyiratkan rasa tidak suka di wajahnya.

Fatimahpun disini menyadarinya, dan kemudian ia pergi ke pasar dan menjual emas yang dipakainya tersebut. selepas dijual, uang dari hasil penjualan emas tersebut diberikan untuk memerdekakan seorang budak. Fatimahpun kembali ke rumah dan menjelaskan keadaannya sekarang. Rasulpun menyiratkan raut wajah senang dan gembira.

Tampak rasulullah saw mengoreksi perilaku anaknya tanpa perlu berkata apapun apalgi berkata kasar, maraha-marah atau bahkan menggunakan kekerasan fisik. Di sisi lain, Fatimah sebagai anaknya juga memiliki kepekaan terhadap suasana hati orang tuanya.

Pada akhirnaya, kasih sayang merupakan cara efektif untuk mendidik anak. Rasul SAW telah mencontohkannya. Beliau mengucapkan salam terlebih dulu saat lewat dihadapan anak-anak. Rasulpun bahkan ikut bermain, berbagi makanan, mencium dan menggendong anak-anak.

Rasul tidak pernah membiarkan anak-anak terabaikan. Karena itu, beliau membolehkan jamaah untuk mengajak anak-anak hadir dalam majelis-majelis keilmuan atau perayaan yang dibolehkan syari’at.

Yuk jadikan moment-moment yang ada saat ini untuk lebih banyak waktu bersama anak di rumah dengan mendidik anak berdasarkan apa yang telah rasulullah saw. contohkan.

Leave a Reply