Beirut, Mata Air Literasi Yang Sedang Berduka

Beirut, Mata Air Literasi Yang Sedang Berduka

Sebuah ledakan di kota Beirut Lebanon terjadi selasa kemarin (4/8). Berdasarkan sebuah sumber, hingga kamis (6/8) ledakan tersebut setidaknya menewaskan 135 orang dan 5000 orang terluka.

Belum ada kesimpulan pasti mengenai penyebab ledakan dahsyat tersebut, namun berdasarkan berita yang beredar ledakan tersebut terjadi disebuah gudang yang menampung Amonium Nitrat sebanyak 2.750 ton di kawasan pelabuhan Ibu Kota Beirut.

Selain menimbulkan korban jiwa, ledakan ini juga mengakibatkan kerusakan yang cukup parah dengan radius kurang lebih 4 KM dari lokasi ledakan. Banyak rumah-rumah yang rusak, fasilitas umum serta pemerintahan. Pemerintah setempat megumumkan hari berkabung selama tiga hari sejak Kamis (6/8) dan darurat nasional selama dua minggu.

Tragedi yang terjadi ditengah pandemic COVID-19 ini memlikukan dunia dan menjadi salah satu bencana terburuk di negeri ini. Seluruh dunia turut berduka cita atas tragedi ini dan bantuan-bantuan dari negara lain mulai berdatangan.

Kota Beirut merupakan Ibu Kota Republik Lebanon yang sekaligus menjadi kota terbesar di negara tersebut. Kota ini didiami oleh lebih dari 1,2 Juta jiwa dengan luas wilayah 19,8 KM2. Karena keindahannya, kota ini dijuluki sebagai “Paris van Middle East” atau “Paris di Dunia Timur”.

Ditinjau dari letak geografisnya, kota Beirut berlokasi di antara Bukit Al-Asyrafiyah dan Al-Musaytibah, terletak di pantai Mediterania di kaki Pegunungan Lebanon. Selain terkenal dengan kota Kosmopolitannya, Kota Beirut juga dikenal sebagai Ibu Kota Buku Dunia serta memiliki catatan sejarah yang panjang dan menarik. Selain itu kota ini juga disebut beberapa kali dalam berbagai kitab suci termasuk dalam Al-Quran dan hadits.

Beirut, Mata Air Literasi Dunia

Beirut Sebagai Ibu Kota Buku Dunia

Pepatah Arab menyebutkan “Buku-buku ditulis di Kairo, dicetak di Beirut dan di baca di Baghdad”. Beirut sebuah kota mungil yang luasnya tidak lebih dari 20 KM persegi ini, siapa sangka mampu menjadi “poros literasi dan percetakan buku terbaik di dunia” khususnya Timur Tengah. Selanjutnya Beirut juga dapat dikatakan berhasil mencuri penyair-penyair dunia dan seniman literasi untuk ikut campur dalam sejarah literasi Beirut.

Sebagai landmark literatur Timur Tengah, Beirut ditetapkan sebagai Ibukota Buku Dunia oleh UNESCO pada tahun 2009, berkat keanekaragaman budaya, dialog, dan literasi. Karya seniman sastra seperti Vénus Khoury-Ghata, Kahlil Gibran, dan Elias Khoury sudahlah tidak asing lagi. Adalah puisi yang menjadi ciri khas literatur sastra Lebanon.

Perlindungan hukum pers yang kuat menjadi alasan beberapa penulis Timur Tengah yang berasal dari Palestina dan Suriah bermigrasi ke Lebanon. Beirut juga merupkan surge untuk percetakan buku berbahasa Arab. Industri percetakan modern dan jalur distribusi yang starategis menjadikan Beirut sebagai pemasok 30% buku untuk kawasan Timur Tengah.

Pada tahun 2019, 700 percetakan Lebanon melayani pasar Internasional dengan anggota aktif lebih dari 200. Menjadikan negara mungil Timur Tengah ini sebagai pemilik penerbit terbesar dan terbanyak di dunia, dengan Beirut sebagai poros utama.

Industri percetakan Beirut bertumbuh pesat pada awal dekade abad ini seiring usainya perang saudara Lebanon. Namun, gejolak di tanah Arab menurunkan stabilitas produk cetakan Beirut, mengingat pasar utamanya adalah negara-negara Arab. Ditambah kehadiran industri digital dan e-book, yang cenderung memberi biaya murah dan praktis bagi pembaca.

Terlepas dari keadaan ini, Beirut selalu memiliki keunggulan komparatif dibandingkan percetakan yang ada di tempat lain. Hal yang membuat perusahaan-perusahaan asing mengalihkan pekerjaan percetakan mereka ke Beirut, karena kualitas, keandalan, dan ketepatan waktu layanan yang diberikan oleh mesin cetak Beirut. Karakteristik ini akan memungkinkan industri percetakan Beirut keluar dari gejolak yang terjadi.

Leave a Reply